Seindah-indah perhiasan adalah wanita solehah
Wanita solehah itu aurat dijaga,
Pergaulan dipagari,
Sifat malu pengikat diri,
Seindah hiasan di dunia ini,
Keayuan wanita solehah itu
Tidak terletak pada kecantikan wajahnya,
Kemanisan wanita solehah
Tidak terletak pada kemanjaannya,
Daya penarik wanita solehah itu
Bukan pada kemanisan bicaranya
yang menggoncang iman para muslimin
Dan bukan pula terletak pada kebijaksanaannya
bermain lidah
Memujuk rayu
Bukan dan tidak sama sekali,
Kepetahan wanita solehah
Bukan pada barang kemas atau perihal orang lain
Tapi pada perjuangannya meningkatkan martabat agama,
Nafsu mengatakan wanita cantik
dengan paras rupa yang indah bak permata yang menyeri alam
Akal mengatakan wanita cantik atas kemajuan dan
kekebalannya dalam ilmu
serta pandangan dari segala aspek
Hati menyatakan kecantikan wanita hanya pada akhlaknya,
Itupun seandainya hati itu bersih untuk dinilai,
Wahai wanita jangan bangga dengan kecantikan luar,
Karena suatu hari nanti akan lapuk ditelan zaman,
Tetapi jaga dan peliharalah kecantikan dalam,
Agar diri kita bersih dan sentiasa mendapat rahmat Ilahi
Wahai wanita jangan bangga dengan ilmu duniawi
yang kau kuasai,
Karena ada lagi manusia yang lebih berpengetahuan darimu,
Wahai wanita jangan pula berduka cita atas kekurangan dirimu,
Karena ada lagi insan yang lebih malang darimu,
Wahai wanita solehah jangan dirisau akan jodohmu,
Karena muslimin yang bijaksana itu tidak akan terpaut
pada wanita hanya karena kecantikan parasnya,
Bersyukurlah atas apa yg ada
Serta berusaha demi keluarga, bangsa, dan agama,
Salam perjuangan untuk sahabatku semua...
Friday, September 15, 2006
Wednesday, September 06, 2006
Arti Kesucian Bagi Perempuan
Eh, kita ngasih judul tulisan begini bukan berarti kita udah suci lho. Bukan pula udah merasa paling benar. Bukan juga mau ngeguruin sama kamu yang bisa jadi ada yang udah ngerti soal beginian, khususnya kaum akhwat. But, kita nulis begini sekadar ngingetin kamu semua. Maklumlah, namanya juga manusia. Suka terserang penyakit lupa. Jadi, saling ngingetin kan bagian dari usaha supaya nggak lupa. Betul apa bener? Nah, itulah pentingnya seorang teman or sahabat. Apalagi kita sebagai sesama muslim, kudu saling ngingetin en nasihatin tuh dalam kebenaran. Setuju kan? Kudu! ?
Sobat muda muslim, kita sedih dan prihatin banget dengan cara gaul sebagian besar teman remaja yang bebas nian. Sepertinya model pergaulan yang bebas itu udah jadi menu keseharian dalam hidup kita. Melanggar aturan malah dianggap wajar. Akibatnya, banyak orang yang udah nggak malu dan ragu untuk berbuat tidak normal. Kalo dulu di jaman ortu kita masih muda, jalan berdua antar lawan jenis aja para tetangga udah bercas-cis-cus ngomongin kita. Coba, gimana nggak merah kuping kita. Meski banyak motif waktu ngomongin pelaku gaul bebas itu, tapi terbukti cukup efektif bikin risih bin keder yang ngelakuin.
Lha, kalo sekarang? Aduh, kita sih nggak abis pikir deh kalo sekarang kok kayaknya liar banget. Udah gitu, para tetangga cuek abis, alias nggak mau peduli terhadap apa yag dilakuin tetangga lainnya. Alasannya sih klise banget, “Itu kan bukan anak or sodara gue, ngapain capek-capek mikirin? Dapet duit juga kagak!” Waduh, egois banget ya? Begitulah…
Pergaulan sekarang nih, udah benar-benar melanggar ajaran agama. Utamanya kita menyoroti gaya gaulnya anak puteri. Wah, wah, udah banyak tuh yang gaulnya bikin bulu betis berdiri (bisik-bisik: bosen ah pake bulu kuduk mulu). Ketar-ketir kita dibuatnya, lho. Bener-bener udah menodai kehormatan dan kesucian dirinya. Gimana nggak, jalan bareng ama cowok bukan mahramnya ayo aja. Diajak main teman cowoknya oke aja. Dipegang, digandeng, dipeluk, ditimpukin, sampe dibanting no problemo. Waduh! (backsound: smackdown kaleee..).
Gaya gaul kayak begini bisa dibilang udah nggak sehat. Emang sih, awalnya model gaul begini dicontohkan kalangan seleb. But, sekarang udah nyebar dan jadi identitas masyarakat, khususnya kalangan remaja dan mahasiswa. Jangan-jangan tetangga kita malah jadi pelaku aktifnya. Atau mungkin sodara dan teman kita sendiri (atau malah kita sendiri?) Siapa tahu kan? Abisnya, sekarang udah jadi tren.
Kalangan seleb yang perilakunya gampang disimak di televisi makin menganggap biasa berbuat salah. Rasanya pedih dan perih hati ini, pas ngelihat para penyanyi dangdut wanita yang senantiasa menjual bodinya ketimbang suaranya. Dipelopori oleh Inul Daratista si Ratu Ngebor, maka di belakangnya seperti berlomba nyari sensasi. Terdaftar nama-nama penari striptease, eh, penari dangdut (bukan penyanyi, itu mah); Anisa “goyang patah-patah” Bahar, Uut Permatasari, Ira Swara, Putri Vinata, Nita Talia, Dewi Persik wa akhwatuha... yang always kesetanan dalam bertingkah. Bebas euy!
Nggak hanya di televisi, media cetak juga seperti berlomba untuk menjual erotisme binti pornografi. Sesuatu yang amat ditabukan, yang hanya boleh dilihat dan dilakukan di ruang pribadi, sekarang udah menjadi konsumsi umum. Siapa pun boleh menikmati dengan sesukanya. Nyang penting ada itung-itungan duit di sana. Atau tujuan lain, ngetop. Padahal sama aja, karena kalo udah ngetop en populer kan duit lagi akhirnya. Hmm… dasar kapitalis!
Bo abo.. kalo udah kayak gitu, kita ngeri, risih, kesel, sekaligus kasihan sama mbak-mbak kita itu. Semua orang yang pikirannya normal pastinya nggak suka dengan gaya hidup begituan. Kalo pun kemudian ada yang diem-diem mendukung, itu juga lebih karena mereka bingung, lalu tanpa sadar menganggap kelakuan kayak begitu sebagai sebuah kewajaran. Gubrak! Lalu, apa artinya sebuah kesucian bagi seorang perempuan? Atau memang udah nggak perlu lagi predikat itu? (kasihaaan deh eluh!)
Ukuran kesucian
Kalo orangtua dulu sering secara khusus membahas tentang kesucian diri bagi seorang perempuan, sekarang kayaknya mulai dilupakan alias rada longgar. Jaman dulu ortu sering wanti-wanti kepada anak perempuannya untuk pandai menjaga diri. Untuk tidak bergaul sesukanya dengan lawan jenis. Bahkan untuk sekadar olahraga berat aja para ortu suka murka, karena katanya akan mempengaruhi keperawanan sebagai sebuah lambang kesucian.
Nah, dengan menganggap arti sebuah kesucian bagi perempuan diukur berdasarkan ketentuan fisik seperti ini, maka para ortu sangat khawatir kalo anak perempuannya mulai gatel ngelihat cowok. Jangan-jangan, entar mereka gaul bebas. Kalo udah gitu kan repot.
Sekadar gambaran, pernah ada tuh film Indonesia yang judulnya Tirai Malam Pengantin.. Film jaman baheula banget sih. Digambarkan dalam film yang dibintangi oleh Mbak Yessy Gusman itu seorang ibu yang sangat khawatir begitu mengetahui selaput dara anak perempuannya robek pas jatuh saat main sepeda. Padahal, sebentar lagi akan menikah. Singkat cerita, tuh si ibu yang merasa ingin agar anaknya bisa mempersembahkan arti sebuah kesucian kepada suaminya, sebelum nikah dilakukan operasi selaput dara. Kalo sekarang? Pikirannya gampang aja. Kalo pun ‘kecelakaan’ duluan, nikahin aja. Toh udah banyak para seleb ibukota mencontohkan. Jadi, ‘semboyannya’ seperti dalam pelajaran bahasa Indonesia; ‘buatlah seperti contoh!’ Wasyah!
Sobat muda muslim, emang sih, kalo kita ngomongin tentang kesucian sebenarnya bukan hanya ditujukan untuk kaum Hawa, kaum Adam juga perlu disorot. Cuma, karena anak laki rada sulit dibedain mana yang masih suci mana yang udah nggak suci lagi, jadinya yang sering dapet porsi lebih banyak dalam pembahasannya adalah anak perempuan. Karena anak perempuan amat mudah dilihat perubahannya. Tapi dengan catatan, jika ngelihatnya adalah ukuran fisik.
Tapi kalo standar kesucian diukur dari tingkah laku, anak laki dan anak perempuan bisa dengan mudah dilihat. Artinya, baik anak laki atawa anak perempuan, kalo mereka udah kecebur dalam pergaulan bebas, kalo gaya gaul mereka nyerempet-nyerempet dosa, kalo mereka mengamalkan free thinker, ya sama-sama nggak suci secara kepribadiannya. Setuju kan?
Sobat muda muslim, Islam udah mengatur segala bentuk perbuatan manusia. Buat anak ngaji mungkin sering denger istilah hukum syara. Nah, hukum syara, menurut istilah para pakar ushul fiqih adalah seruan (khithab) Syar’i (Allah Swt.) yang berkaitan dengan aktivitas hamba (manusia), berupa tuntutan (al-Iqtidla), penetapan (al-Wadl’i) dan pemberian pilihan (at-Takhyir).
Jadi, segala aturan yang tercantum dalam sumber hukum syara (al-Quran, as-Sunnah, Ijma sahabat, dan qiyas) adalah sandaran ketika kita berbuat. Pendek kata, perbuatan kita kudu sesuai aturan yang berlaku dalam ajaran agama kita. Semua itu nggak lain, adalah untuk menjaga kita dari aktivitas yang bisa menurunkan derajat kita sebagai manusia. Itu juga bisa berarti untuk melindungi kita supaya tetap menjaga kesucian diri. Bener lho.
Misalnya aja Allah menyindir manusia yang nggak mau tunduk pada aturan-Nya. Seperti dalam firman-Nya: “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS al-A’raaf [7]: 179)
Lha, kalo yang sekarang kita lihat, manusia seperti berlomba menuju neraka! Aduh, sebetulnya nggak tega menulis begini. Tapi, ternyata banyak kaum muslimin yang udah berani secara terang-terangan berbuat maksiat. Jadinya, ‘kepaksa’ deh kita nyebutin begitu. ?
Coba kalo kamu pikir, gimana bisa menjaga kesucian diri kalo bergaul aja menganut gaya bebas (kirain cuma dalam renang aja tuh). Betul apa betul? Terus, gimana bisa disebut terhormat, kalo dalam berbuat justru melanggar kehormatan? Berpakaian aja nggak bener. Aurat yang wajib ditutup malah diobral kepada siapa aja yang bisa melihatnya. Nggak malu dan nggak ragu lagi (mungkin karena tergoda lirik lagu tema acara Joged-nya RCTI, yang ngomporin agar jangan malu dan ragu, katanya sah-sah saja). Salah kok bangga ya?
Mengembalikan kesucian
Sobat muda muslim, khususnya yang puteri. Kesucian diri memang berarti luas ya. Baik lahir maupun batin. Sayangnya, di jaman yang udah jauh dari nilai-nilai Islam ini, jangankan kesucian batin (baca: kepribadian), menjaga kesucian diri yang sifatnya lahir aja udah susah. Sebab, yang kita saksikan justru mereka berlomba untuk mengobral seluruh potensi dan pesona tubuh yang dimiliknya. Nggak usah dijelasin secara detil, toh kamu juga udah sering lihat dalam kehidupan nyata; baik di lingkungan sekitar kita, maupun yang kita lihat di televisi dan yang kita baca di media cetak. Ckckckck.. kasihan banget tuh.
Nah, ini memang bagian dari kerusakan moral yang udah mengglobal. Masyarakat kita sedang sakit. Kerusakan ini sebetulnya bisa dicegah dengan menjalin kerjasama di semua komponen. Mulai dari individu di keluarga dengan menanamkan ketakwaan bagi anggota keluarga, terus masyarakat yang ketat dalam mengontrol aktivitas warganya, dan juga penerapan aturan dan sanksi oleh negara.
Tiga kekuatan ini yang mestinya bisa digabungkan untuk mencegah kerusakan lebih jauh dalam rangka melindungi kehormatan manusia. Tapi sayangnya, tiga pilar itu mulai keropos semua. Takwa individu payah, pengawasan masyarakat lemah, dan negara nggak bisa diharapkan lagi. Sedih deh.
Kalo udah begini gaswat. Al-Quran udah menjelaskan sebab-sebab kutukan Allah kepada masyarakat Yahudi, karena nggak ada dalam aturan mereka sistem kontrol masyarakat. Kalo pun ada, tapi lemah banget. Firman-Nya: “Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (QS al-Maaidah [5]: 79)
Mari kita renungkan firman Allah Swt.: “...Jika kamu (hai kaum muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (TQS al-Anfaal [8]: 73)
Kamu perlu tahu bahwa budaya atau peradaban adalah ditentukan mafahim (persepsi/pandangan) tentang kehidupan. Nah, yang muncul sekarang adalah berasal dari pandangan hidup kapitalisme-sekularisme yang emang menjadikan kebebasan sebagai patokan berbuat. Permisif dan hedonis sekaleee. Inilah akar masalahnya. Sebab, akibat paham ini maka lahirlah beragam kekacauan, kesengsaraan, hilangnya rasa aman di tengah-tengah masyarakat, juga melahirkan mental yang bobrok.
Sekularisme emang bikin sengsara umat manusia. Jadi, mari mengembalikan kesucian dan kehormatan umat manusia dengan menggusur ideologi kapitalisme-sekularisme dari kehidupan kita. Selanjutnya, terapkan Islam sebagai ideologi negara. Kagak pake dilama-lamain lagi. Mari berjuang sekarang juga, sobat! ?
Tulisan diambil dari buletin studia edisi 160/ tahun ke 4
Sobat muda muslim, kita sedih dan prihatin banget dengan cara gaul sebagian besar teman remaja yang bebas nian. Sepertinya model pergaulan yang bebas itu udah jadi menu keseharian dalam hidup kita. Melanggar aturan malah dianggap wajar. Akibatnya, banyak orang yang udah nggak malu dan ragu untuk berbuat tidak normal. Kalo dulu di jaman ortu kita masih muda, jalan berdua antar lawan jenis aja para tetangga udah bercas-cis-cus ngomongin kita. Coba, gimana nggak merah kuping kita. Meski banyak motif waktu ngomongin pelaku gaul bebas itu, tapi terbukti cukup efektif bikin risih bin keder yang ngelakuin.
Lha, kalo sekarang? Aduh, kita sih nggak abis pikir deh kalo sekarang kok kayaknya liar banget. Udah gitu, para tetangga cuek abis, alias nggak mau peduli terhadap apa yag dilakuin tetangga lainnya. Alasannya sih klise banget, “Itu kan bukan anak or sodara gue, ngapain capek-capek mikirin? Dapet duit juga kagak!” Waduh, egois banget ya? Begitulah…
Pergaulan sekarang nih, udah benar-benar melanggar ajaran agama. Utamanya kita menyoroti gaya gaulnya anak puteri. Wah, wah, udah banyak tuh yang gaulnya bikin bulu betis berdiri (bisik-bisik: bosen ah pake bulu kuduk mulu). Ketar-ketir kita dibuatnya, lho. Bener-bener udah menodai kehormatan dan kesucian dirinya. Gimana nggak, jalan bareng ama cowok bukan mahramnya ayo aja. Diajak main teman cowoknya oke aja. Dipegang, digandeng, dipeluk, ditimpukin, sampe dibanting no problemo. Waduh! (backsound: smackdown kaleee..).
Gaya gaul kayak begini bisa dibilang udah nggak sehat. Emang sih, awalnya model gaul begini dicontohkan kalangan seleb. But, sekarang udah nyebar dan jadi identitas masyarakat, khususnya kalangan remaja dan mahasiswa. Jangan-jangan tetangga kita malah jadi pelaku aktifnya. Atau mungkin sodara dan teman kita sendiri (atau malah kita sendiri?) Siapa tahu kan? Abisnya, sekarang udah jadi tren.
Kalangan seleb yang perilakunya gampang disimak di televisi makin menganggap biasa berbuat salah. Rasanya pedih dan perih hati ini, pas ngelihat para penyanyi dangdut wanita yang senantiasa menjual bodinya ketimbang suaranya. Dipelopori oleh Inul Daratista si Ratu Ngebor, maka di belakangnya seperti berlomba nyari sensasi. Terdaftar nama-nama penari striptease, eh, penari dangdut (bukan penyanyi, itu mah); Anisa “goyang patah-patah” Bahar, Uut Permatasari, Ira Swara, Putri Vinata, Nita Talia, Dewi Persik wa akhwatuha... yang always kesetanan dalam bertingkah. Bebas euy!
Nggak hanya di televisi, media cetak juga seperti berlomba untuk menjual erotisme binti pornografi. Sesuatu yang amat ditabukan, yang hanya boleh dilihat dan dilakukan di ruang pribadi, sekarang udah menjadi konsumsi umum. Siapa pun boleh menikmati dengan sesukanya. Nyang penting ada itung-itungan duit di sana. Atau tujuan lain, ngetop. Padahal sama aja, karena kalo udah ngetop en populer kan duit lagi akhirnya. Hmm… dasar kapitalis!
Bo abo.. kalo udah kayak gitu, kita ngeri, risih, kesel, sekaligus kasihan sama mbak-mbak kita itu. Semua orang yang pikirannya normal pastinya nggak suka dengan gaya hidup begituan. Kalo pun kemudian ada yang diem-diem mendukung, itu juga lebih karena mereka bingung, lalu tanpa sadar menganggap kelakuan kayak begitu sebagai sebuah kewajaran. Gubrak! Lalu, apa artinya sebuah kesucian bagi seorang perempuan? Atau memang udah nggak perlu lagi predikat itu? (kasihaaan deh eluh!)
Ukuran kesucian
Kalo orangtua dulu sering secara khusus membahas tentang kesucian diri bagi seorang perempuan, sekarang kayaknya mulai dilupakan alias rada longgar. Jaman dulu ortu sering wanti-wanti kepada anak perempuannya untuk pandai menjaga diri. Untuk tidak bergaul sesukanya dengan lawan jenis. Bahkan untuk sekadar olahraga berat aja para ortu suka murka, karena katanya akan mempengaruhi keperawanan sebagai sebuah lambang kesucian.
Nah, dengan menganggap arti sebuah kesucian bagi perempuan diukur berdasarkan ketentuan fisik seperti ini, maka para ortu sangat khawatir kalo anak perempuannya mulai gatel ngelihat cowok. Jangan-jangan, entar mereka gaul bebas. Kalo udah gitu kan repot.
Sekadar gambaran, pernah ada tuh film Indonesia yang judulnya Tirai Malam Pengantin.. Film jaman baheula banget sih. Digambarkan dalam film yang dibintangi oleh Mbak Yessy Gusman itu seorang ibu yang sangat khawatir begitu mengetahui selaput dara anak perempuannya robek pas jatuh saat main sepeda. Padahal, sebentar lagi akan menikah. Singkat cerita, tuh si ibu yang merasa ingin agar anaknya bisa mempersembahkan arti sebuah kesucian kepada suaminya, sebelum nikah dilakukan operasi selaput dara. Kalo sekarang? Pikirannya gampang aja. Kalo pun ‘kecelakaan’ duluan, nikahin aja. Toh udah banyak para seleb ibukota mencontohkan. Jadi, ‘semboyannya’ seperti dalam pelajaran bahasa Indonesia; ‘buatlah seperti contoh!’ Wasyah!
Sobat muda muslim, emang sih, kalo kita ngomongin tentang kesucian sebenarnya bukan hanya ditujukan untuk kaum Hawa, kaum Adam juga perlu disorot. Cuma, karena anak laki rada sulit dibedain mana yang masih suci mana yang udah nggak suci lagi, jadinya yang sering dapet porsi lebih banyak dalam pembahasannya adalah anak perempuan. Karena anak perempuan amat mudah dilihat perubahannya. Tapi dengan catatan, jika ngelihatnya adalah ukuran fisik.
Tapi kalo standar kesucian diukur dari tingkah laku, anak laki dan anak perempuan bisa dengan mudah dilihat. Artinya, baik anak laki atawa anak perempuan, kalo mereka udah kecebur dalam pergaulan bebas, kalo gaya gaul mereka nyerempet-nyerempet dosa, kalo mereka mengamalkan free thinker, ya sama-sama nggak suci secara kepribadiannya. Setuju kan?
Sobat muda muslim, Islam udah mengatur segala bentuk perbuatan manusia. Buat anak ngaji mungkin sering denger istilah hukum syara. Nah, hukum syara, menurut istilah para pakar ushul fiqih adalah seruan (khithab) Syar’i (Allah Swt.) yang berkaitan dengan aktivitas hamba (manusia), berupa tuntutan (al-Iqtidla), penetapan (al-Wadl’i) dan pemberian pilihan (at-Takhyir).
Jadi, segala aturan yang tercantum dalam sumber hukum syara (al-Quran, as-Sunnah, Ijma sahabat, dan qiyas) adalah sandaran ketika kita berbuat. Pendek kata, perbuatan kita kudu sesuai aturan yang berlaku dalam ajaran agama kita. Semua itu nggak lain, adalah untuk menjaga kita dari aktivitas yang bisa menurunkan derajat kita sebagai manusia. Itu juga bisa berarti untuk melindungi kita supaya tetap menjaga kesucian diri. Bener lho.
Misalnya aja Allah menyindir manusia yang nggak mau tunduk pada aturan-Nya. Seperti dalam firman-Nya: “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS al-A’raaf [7]: 179)
Lha, kalo yang sekarang kita lihat, manusia seperti berlomba menuju neraka! Aduh, sebetulnya nggak tega menulis begini. Tapi, ternyata banyak kaum muslimin yang udah berani secara terang-terangan berbuat maksiat. Jadinya, ‘kepaksa’ deh kita nyebutin begitu. ?
Coba kalo kamu pikir, gimana bisa menjaga kesucian diri kalo bergaul aja menganut gaya bebas (kirain cuma dalam renang aja tuh). Betul apa betul? Terus, gimana bisa disebut terhormat, kalo dalam berbuat justru melanggar kehormatan? Berpakaian aja nggak bener. Aurat yang wajib ditutup malah diobral kepada siapa aja yang bisa melihatnya. Nggak malu dan nggak ragu lagi (mungkin karena tergoda lirik lagu tema acara Joged-nya RCTI, yang ngomporin agar jangan malu dan ragu, katanya sah-sah saja). Salah kok bangga ya?
Mengembalikan kesucian
Sobat muda muslim, khususnya yang puteri. Kesucian diri memang berarti luas ya. Baik lahir maupun batin. Sayangnya, di jaman yang udah jauh dari nilai-nilai Islam ini, jangankan kesucian batin (baca: kepribadian), menjaga kesucian diri yang sifatnya lahir aja udah susah. Sebab, yang kita saksikan justru mereka berlomba untuk mengobral seluruh potensi dan pesona tubuh yang dimiliknya. Nggak usah dijelasin secara detil, toh kamu juga udah sering lihat dalam kehidupan nyata; baik di lingkungan sekitar kita, maupun yang kita lihat di televisi dan yang kita baca di media cetak. Ckckckck.. kasihan banget tuh.
Nah, ini memang bagian dari kerusakan moral yang udah mengglobal. Masyarakat kita sedang sakit. Kerusakan ini sebetulnya bisa dicegah dengan menjalin kerjasama di semua komponen. Mulai dari individu di keluarga dengan menanamkan ketakwaan bagi anggota keluarga, terus masyarakat yang ketat dalam mengontrol aktivitas warganya, dan juga penerapan aturan dan sanksi oleh negara.
Tiga kekuatan ini yang mestinya bisa digabungkan untuk mencegah kerusakan lebih jauh dalam rangka melindungi kehormatan manusia. Tapi sayangnya, tiga pilar itu mulai keropos semua. Takwa individu payah, pengawasan masyarakat lemah, dan negara nggak bisa diharapkan lagi. Sedih deh.
Kalo udah begini gaswat. Al-Quran udah menjelaskan sebab-sebab kutukan Allah kepada masyarakat Yahudi, karena nggak ada dalam aturan mereka sistem kontrol masyarakat. Kalo pun ada, tapi lemah banget. Firman-Nya: “Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (QS al-Maaidah [5]: 79)
Mari kita renungkan firman Allah Swt.: “...Jika kamu (hai kaum muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (TQS al-Anfaal [8]: 73)
Kamu perlu tahu bahwa budaya atau peradaban adalah ditentukan mafahim (persepsi/pandangan) tentang kehidupan. Nah, yang muncul sekarang adalah berasal dari pandangan hidup kapitalisme-sekularisme yang emang menjadikan kebebasan sebagai patokan berbuat. Permisif dan hedonis sekaleee. Inilah akar masalahnya. Sebab, akibat paham ini maka lahirlah beragam kekacauan, kesengsaraan, hilangnya rasa aman di tengah-tengah masyarakat, juga melahirkan mental yang bobrok.
Sekularisme emang bikin sengsara umat manusia. Jadi, mari mengembalikan kesucian dan kehormatan umat manusia dengan menggusur ideologi kapitalisme-sekularisme dari kehidupan kita. Selanjutnya, terapkan Islam sebagai ideologi negara. Kagak pake dilama-lamain lagi. Mari berjuang sekarang juga, sobat! ?
Tulisan diambil dari buletin studia edisi 160/ tahun ke 4
Sunday, September 03, 2006
KKN STORY

“Duuh yang lagi KKN…hati2 cinlok lho non” (kata seorang teman)
“ He…3x cinlok? Semoga aja ngga’, ya tergantunglah bagaimana qta bergaul n’ menjaga hati dengan mereka” (jawabQ)
“Aq kan Cuma mewarning aja” kilahnya
“Ok…Ok trims, emang kalau misale terjadi cinlok padaQ kenapa? Ya gpp toh, cinta kan fitroh, nikah aja sekalian kalau ternyata emang sama2 siap, gimana?”
“Hmmm…”
“Lho kok Cuma hmmm…ga’ bisa jawab ya…he..he”
Komposisi KKN-Q
Akar-akar keramaian, dicampur dengan satu sendok makan bubuk keributan, lalu ditumbuk dalam nampan kekompakan dan ditambah dengan seliter kenakalan, kemudian dimasak dalam wajan kepandaian diatas api ketekunan dan kepatuhan. (wait a moment) aduk merata, hingga tercium aroma kebaikan, kemudian pindahkan pada mangkok cinta dan dinginkan dengan udara kasih sayang. Sesudah itu saring dengan kesetiaan lalu tambahkan dengan manisnya gula iman kepada Allah SWT
Perhatian!!!
Minum sesuai dosis anjuran berteman, bila sakit CLBK (Cinta Lokasi Berbasis Kompetisi) berlanjut hubungi KUA ^_^ hua..ha…haa
Hmm akhir-nya selesai juga KKN-Q setelah 1 bulan mengabdi di masyarakat kecamatan krembangan selatan kelurahan kemayoran. Tentu saja aQ ngga’ sendirian-lah, ada 14 temanQ yang lain dari berbagai fakultas, mo’ tahu siapa aja meraka??? Kenalan yuk…yuux
1. Sito Kusumoyekti (FE)
Ibu ketua korkel (koordinator kelompok) yang sering kasih instruksi jangan telat!! Tapi diri-nya sendiri sering telat, ealah..gimana toh bu ketu ini! N’ satu lagi keunikannya, bu ketu ini orang-nya perhitungan buanget sama masalah pengeluaran keuangan. Kalau ada apa2 “pengeluaran membengkak” karena belanja di tempat yang salah, sstt teman2 jangan bilang bu ketu ya, kalau tadi kita belanja ngga’ pakai survey harga dulu, ok? Ok deh…
2. Fritz William (FE)
Tuan muda ini wakil korkel, orang-nya gimana ya? Lucu, friendly, iihh ni orang bikin aq serasa kembali ks masa silam aja, mirip banget sama temanQ, gaya bahasa, gaya bicara, gaya berjalan-pun wis pokoknya si sinyo ini banyak sekali persamaannya, Cuma nih orang masih anak mama (ya iyalah emang anak-nya siapa kalau bukan anak mama), maksude si mama overprotected, KKN aja harus dikawal pak sopir, makanan-pun harus dijaga, sampai2 teman2 selalu nggodain, Lho Fritz kamu gpp ta makan nasi goreng yang beginian, tar pulang2 kamu sakit karena masakannya kurang hygiene, tar mama-mu nglabrak kita, “Eh anakQ kamu kasih makan apa tadi?” Oalah Fritz…Fritz.
oaia fritz ini penyokong dana terbesar acar KKN kami, lha gimana ngga, dari perusahaan papa-nya Fritz, pabrik rokok kakek-nya Fritz, dealer Honda om-nya Fritz, Toko Buku Om-nya Fritz, Telkom juga Om-nya fritz, EO juga chanel papa-nya Fritz, sampai2 pacar kakak-nya-pun dia mintai donatur, udah deh Fritz sekalian aja donatur-nya dari mama-nya Fritz, kakak-nya fritz, nenek-nya Fritz, tante-nya Fritz, sepupu n' tetangganya Fritz, gimana Fritz...so sekalian tar backdrop-nya ditulisi sponsor tunggal Fritz family...he...he
3. Dwi sang sekretaris (FISIP)
Dwi ini orang-nya buaek buanget…jadi tukang ojekQ selama KKN, gratisan lagi (ya kadang2 aja gantian isi bensin), setia banget menungguQ di depan gang (padahal aQ-nya juga sering telat), maaf ya Dwi…
4. Mudrikah (FKG)
Mudrikah ini siapa ya? Tau’ah…(Rika lagi pura2 ngga’ kenal ^_^). Hmm bawa uang banyak nih, tapi sayang Cuma bawa doang n’ membuat laporan keluar masuk-nya uang. Padahal banyak anak FE-nya lho, kok ya masih nunjuk mudrikah sih? Heran dari dulu spesialis jadi bendahara, ngga’ di Kaninus FKG, Bendahara Dosen SKI FKG, di Karisma juga sebagai Kadiv Danus yang muterin uang, emang nih wajah tampang2 pemegang uang ya? Amiin ^_^
5. Titus (FE)
Cowok asal Madiun ini buaek banget (signal2 ada udang di balik rempeyek-nya Rika, hmmm nyummy ^_^). Titus nih teman seperjuanganQ jaga posko, tentu aja ngga’ berdua, kan masih ada Dwi yang setia menemaniQ. Titus nih enak kalau diloby…siapa dulu dong yang mloby…Rika gitu loh he…he..
“Titus senin besok aQ ngga’ bisa jaga posko, aQ mo’ pulkan ya…, gimana?”
“Ok, gpp tar biar aQ ma Dwi yang jaga, TTDJ ya Rik…jangan lupa oleh2nya”
“Oh ya tus, Kamis besok jangan aQ ya yang ngajar SD Kemayoran, anak2 terlalu crowded, aq ngga’ bisa menguasai, suaraQ ngga’ nyampai nih”
“Ya udah gpp, tar biar aQ n’ teman2 lain yang ngajar, kamu jadi pendamping saja”
“Ok deh tus…makasih ya”
Tuh apa kataQ si Titus baik banget kan hi..hi
6. Linda (FKG)
Linda nih selalu aja jadi satu kelompok denganQ, lha gimana ngga’, lha wong NIM-nya tepat dibawahQ. Sorry ya nda…si Dwi (tetangga kost-mu) dah aQ kontrak jadi sopir pribadiQ selama KKN, kamu sama Ika n’ Boby aja, kalau kamu dah ditinggal mereka, tenang aja masih banyak pak sopir bemo yang setia mengantar-mu ke tempat KKN, he..he
7. Romy (FE)
Cowok kelahiran 25 Februari 1985 (weks mudah banget ternyata), 2 hal yang membuatQ salut dari-nya. Sholat-nya selalu on-time kalau denger adzan udah deh nih cowok ngga’ bakalan tenang, apapun kondisi-nya (sedang acara/ngga’) langsung ngacir go out cari masjid trus nih orang ahli puasa, puasa Daud ! Cckk..cckk salut deh.
Tapi yang bikin gua gemes, nih orang hobby buat keonaran n’ orang-nya cuek bebek sama penampilan.
“Romi udah berapa kali aQ bilangin, kamu tuh lagi KKN, mbok ya pakai jas almamater jangan pakai jaket. Ini ke sekolah mau ngajar kok ya pakai sandal warna orange n’ kaos kaki lagi, aduh Romy pliz deh ngga’ matching n’ ngga’ resmi banget, besok jangan diulangi ya! (cerewetQ lagi kambuh nih)
Oh ya nih orang bisa dibilang langka, sayang banget sama helm-nya, helm habis dipakai selalu dibungkus pakai tas helm transparan, ngga’ mau meletakkan sembarangan.
“Eh Rom tuh helm mbok ya ditaruh, jangan dibawa terus, pusing nih yang ngliat, ngga’ bakalan hilang kok”
“Lho aQ tuh sayang banget sama helmQ, dia nih istri kedua-Q. Sama helm sebagai istri kedua aja sayang-nya dah setengah mati, gimana sama istri pertama-nya ya? Pasti lebih suayang lagi, tapi sayang-nya belum ada he…he”
“Dasar orang aneh…….”
Hmm sebenar-nya masih ada 8 anak lagi dengan keunikan masing2,tapi kalau mau dikenalin satu-satu bisa puanjang banget nih cerita n' kalau masukin foto-nya satu2 jadi lama...padahal nih billing warnet jalan terus so maaf ya...lain kali aja, Insya allah, sekedar info aja nih kelompok ada si konyol Boby dari FKG, si moody Ika FKG, si rocker Ivan FMIPA Fisika, si user XTC Gaguk (tampang2 pecandu, tapi asli-nya free napza kok) dari Fisika juga, bu haji Rini FE, si Retno FE, si tinggi besar Marwan FE, n’ si Lina FE. (nah cari aja sendiri di foto paling atas tampang2 mereka)
Untuk program2 kegiatan, Insya Allah juga menyusul ya...dilain kesempatan (kalau aQ mood untuk cerita ^_^)OK?
Selamat menempuh hidup baru Teman ^_^
Alhamdulillah satu lagi temanQ di Mojokerto menikah, aQ doain :
Barokallahu laka wa baroka alayka wa jama’a bayna kumaa fii khoirin
Ya Allah
Limpahkanlah kepada mereka cinta
Yang Kau jadikan pengikat rindu Rosulullah dan Khodijah Al-Kubro
Yang Kau jadikan mata air kasih sayang Ali dan Fatimah Az-Zahro
Yang Kau jadikan penghias keluarga Nabi-Mu yang suci
Ya Allah
Jadikanlah mereka suami istri yang saling mencintai di kala dekat
Saling menjaga kehormatan dikala jauh
Saling menghibur dikala dukua
Saling mengingatkan dikala bahagia
Saling mendoakan dalam kebaikan dan ketaqwaan
Saling menyempurnakan dalam peribadatan
Semoga Allah menghimpun yang terserak dari keduanya
Memberkahi mereka berdua
Dan kiranya Allah meningkatkan kualitas keturunan mereka
Menjadikan pembuka hati rahmat, sumber ilmu dan hikmah
Amiin yaa Robbal Alamin
Hmm adakah yang mau menyusul n’ minta aQ doa-in? maka-nya don’t forget undang Rika, Ok? ^_^
Barokallahu laka wa baroka alayka wa jama’a bayna kumaa fii khoirin
Ya Allah
Limpahkanlah kepada mereka cinta
Yang Kau jadikan pengikat rindu Rosulullah dan Khodijah Al-Kubro
Yang Kau jadikan mata air kasih sayang Ali dan Fatimah Az-Zahro
Yang Kau jadikan penghias keluarga Nabi-Mu yang suci
Ya Allah
Jadikanlah mereka suami istri yang saling mencintai di kala dekat
Saling menjaga kehormatan dikala jauh
Saling menghibur dikala dukua
Saling mengingatkan dikala bahagia
Saling mendoakan dalam kebaikan dan ketaqwaan
Saling menyempurnakan dalam peribadatan
Semoga Allah menghimpun yang terserak dari keduanya
Memberkahi mereka berdua
Dan kiranya Allah meningkatkan kualitas keturunan mereka
Menjadikan pembuka hati rahmat, sumber ilmu dan hikmah
Amiin yaa Robbal Alamin
Hmm adakah yang mau menyusul n’ minta aQ doa-in? maka-nya don’t forget undang Rika, Ok? ^_^
Subscribe to:
Posts (Atom)
